Oleh: Andrias Harefa
Pribadi yang sukses memiliki persamaan dengan orang yang sehat
secara
psikologis, tetapi apakah orang sukses itu sehat secara
psikologis, dan
orang yang secara psikologis sehat itu pasti orang sukses?
Maxwell Maltz (1899-1975) yang dikenal dengan pemaparan tentang
Psycho-Cybernetics (1960), mengemukakan tujuh ciri kepribadian
sukses yang
amat menarik untuk kita renungkan.
Ciri pertama: Sense of
direction. Orang sukses mempunyai kemampuan untuk mengarahkan dan
memimpin
dirinya sendiri. Ia tidak ditentukan oleh situasi lingkungannya.
Di antara
banyak karyawan yang suka mangkir kerja dan terlambat masuk
kantor,
karyawan berkepribadian sukses selalu rajin dan datang lebih awal.
Di
antara manusia yang suka mengeluh, ia tak mengucapkan
kalimat-kalimat
keluhan walaupun banyak hal yang bisa dikeluhkannya. Ciri pertama
ini
sangat dekat dengan apa yang disebut oleh Stephen R. Covey dengan
istilah
proaktivitas. Orang yang proaktif tidak didikte oleh suara-suara
mayoritas,
sebab mereka mendasarkan sikap dan perilaku mereka atas rasa
tanggung jawab
terhadap kehidupan pribadi mereka. Orang-orang yang suka
mengkambing-hitamkan situasi, lingkungan, dan orang lain di
sekitarnya,
jelaslah bukan tipe ini.
Ciri kedua: Understanding. Orang sukses
berkemampuan untuk memahami diri mereka, memahami orang lain, dan
memahami
pekerjaan mereka. Dan, mungkin ini jauh lebih penting, mereka mau
belajar
memahami segala sesuatu. Dalam bahasa Covey, orang-orang seperti
ini
memiliki kebiasaan “seek first to understand, then to be
understood.” Mereka tidak suka berkata: “Anda harus memahami
saya”, tidak suka menuntut orang lain menyesuaikan diri dengan
mereka, tetapi justru sebaliknya.
Ciri ketiga: Courage.
Keberanian bertindak merupakan hal yang melekat dalam diri orang
berkepribadian sukses. Apa pun risiko yang menghadang langkahnya,
takkan
membuat mereka mundur. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa
mereka
berprinsip: “Adalah lebih baik bertindak, walau kelak terbukti
tindakan itu salah daripada takut salah dan karenanya tidak pernah
melakukan sesuatu dalam hidup”. Manusia yang hanya membeo dan tak
pernah berani menyatakan pilihan sikap yang berbeda dengan orang
lain,
tidak masuk dalam kategori ini.
Ciri keempat: Charity. Sifat
kikir dan egosentris tidak membuat seseorang meraih sukses.
Kemurahan hati,
murah dalam memberikan pujian, suka menolong, bersedia membagi hak
miliknya
pada orang lain, adalah sifat-sifat yang menyertai kesuksesan
seseorang.
Ciri kelima: Esteem (self-esteem). Suka mengemis, meminta belas
kasihan dan mentalitas budak bertentangan dengan tabiat orang
sukses segala
zaman. Orang Sukses memiliki harga diri yang sehat.
Ciri keenam:
Self-Acceptance. Orang sukses menerima kelemahan mereka, sekaligus
mengetahui bahwa dalam diri mereka terdapat kekuatan yang unik dan
berbeda
dengan manusia lain. Mereka enggan menyediakan banyak waktu untuk
meratapi
kelemahan mereka, tetapi berusaha keras mengembangkan potensi
positif yang
telah dikaruniakan Sang Ilahi kepadanya.
Ciri ketujuh:
Self-Confidence. Inferiority complex alias minder dan superiority
complex
alias arogan tak melahirkan orang sukses. Kepercayaan diri ini
berkaitan
erat dengan penerimaan diri sebab percaya diri merupakan akibat
dari adanya
self-acceptance dan self-respect. Sikap minder dan arogan adalah
musuh
besar kepribadian sukses. Orang minder susah meraih keberhasilan,
sementara
yang arogan susah mempertahankannya (kisah para tiran di segala
jaman
membuktikan hal ini, bukan?).
Adalah menarik bahwa apa yang
disebut oleh Maltz sebagai ciri-ciri kepribadian sukses tersebut
memiliki
persamaan yang mendasar dengan empat ciri orang yang sehat secara
psikologis. Duane Schultz dalam bukunya Growth Psychology: Models
of
Healthy Personality mencoba menguraikan titik-titik persamaan yang
dimiliki
oleh orang-orang berkepribadian sehat—Schultz mengkaji tujuh teori
pribadi sehat berdasarkan konsep Gordon Allport, Carl Rogers,
Erich Fromm,
Abraham Maslow, Carl Jung, Viktor Frankl, dan Fritz Perls.
Pertama, orang-orang yang sehat secara psikologis mengontrol
kehidupan
mereka secara sadar. Walaupun tidak selalu secara rasional,
orang-orang
sehat mampu secara sadar mengatur tingkah laku dan bertanggung
jawab
terhadap nasib mereka sendiri. Mereka, karenanya, tidak suka
menyalahkan
lingkungan atau mengkambing-hitamkan orang lain.
Kedua,
orang-orang yang sehat secara psikologis mengetahui diri mereka
apa dan
siapa. Mereka menyadari kekuatan dan kelemahan, kebaikan dan
keburukan
mereka, dan umumnya mereka sabar dan menerima hal-hal tersebut.
Mereka
tidak berkeinginan menjadi sesuatu yang bukan mereka. Meski mereka
dapat
memainkan peran sosial untuk memenuhi tuntutan dari orang lain
atau situasi
(kecuali dalam pandangan Perls), namun mereka tidak
mengacaubalaukan peran
ini dengan diri mereka yang sebenarnya.
Ketiga, mereka bersandar
kuat pada masa kini. Meski para ahli teori itu percaya bahwa kita
tidak
kebal terhadap pengaruh masa lampau (khususnya pada masa
kanak-kanak),
namun tidak ada seorang pun mengatakan bahwa kita tetap dibentuk
oleh
pengalaman awal (sebelum usia lima tahun). Pada sisi lain mereka
memandang
masa depan sebagai sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak
mengganti masa
kini dengan masa depan.
Dan keempat, orang yang sehat secara
psikologis tidak merindukan ketenangan dan kestabilan, tetapi
mendambakan
tantangan dan kegembiraan dalam kehidupan, tujuan dan pengalaman
baru.
Pertanyaan yang mungkin muncul adalah: Benarkah orang yang sukses
itu selalu sehat secara psikologis? Apakah orang yang secara
psikologis
sehat pasti orang sukses? Tulisan ini tidak bermaksud menjawab dua
pertanyaan tersebut, tetapi justru ingin mengajak Anda berpikir:
bagaimana
pendapat Anda?
*) Andrias Harefa
Author: 40 Best-selling
Books; S peaker-T rainer-C oach: 22 Years Plus
Alamat
www.andriasharefa.com – Twitter @andriasharefa
Sumber: http://www.andriasharefa.com/kepribadian-sukses/2014/09
Friday, September 12, 2014
Mengejar Cita-Cita
Oleh: Andrias Harefa
DI SEKOLAH kehidupan kita sering menemukan begitu banyak orang yang terjebak oleh trauma kegagalan di masa silam. Kegagalan yang pernah dialaminya dianggap sebagai sesuatu yang mutlak dan pasti terulang, sehingga membuat dirinya kapok untuk mencoba lagi. Bahkan bukan cuma itu. Perasaan “takut gagal lagi” itu kemudian secara sistematik ditularkan kepada sejumlah orang, entah itu rekan kerja atau bahkan anak-anak mereka sendiri. Dan ketika rasa “takut gagal” menjadi momok dalam sebuah lingkungan, maka sejumlah cita-cita besar kita dapati layu sebelum berkembang.
Ilustrasi yang menarik mengenai soal tersebut diatas dapat dipetik dari cerita yang beredar di internet, yang entah darimana asal-usulnya. Berikut petikannya:
Konon, ada seorang profesor di Amerika yang meneliti dua ekor monyet. Keduanya, sebut saja Ankey dan Benkey, dimasukkan ke dalam sebuah ruang kosong bersama-sama. Di dalam ruang terdapat sebuah tiang yang di atasnya terdapat sejumlah pisang yang sudah matang.
Setelah cukup menyamankan diri dengan lingkungan dalam ruang tersebut, Ankey dan Benkey kemudian mulai mencoba memanjat tiang untuk mendapatkan pisang yang menggiurkan itu. Mula-mula Ankey yang naik. Ketika berada di tengah, sang profesor menyemprotkan air ke arahnya, sehingga Ankey terpeleset dan jatuh. Penasaran, Ankey mencoba lagi, disemprot lagi, dan jatuh lagi. Begitu berulang kali, sampai Ankey menjadi kapok. Lalu Benkey mencoba. Ia mengalami hal yang sama berulang kali dan akhirnya ikut kapok.
Tak lama berselang, dimasukkanlah monyet ketiga, sebut saja Cenkey. Sang profesor sudah menetapkan untuk tidak lagi menyemprotkan air jika ada monyet yang memanjat tiang. Siapa pun yang memanjat pasti akan mendapatkan pisang yang ada. Anehnya, begitu Cenkey mulai menyentuh tiang untuk memanjat, ia langsung ditarik oleh Ankey dan Benkey. Mereka agaknya berusaha mencegah agar Cenkey tidak mengalami nasib serupa dengan mereka. Karena terus menerus dicegah oleh Ankey dan Benkey, maka akhirnya Cenkey terpengaruh dan tak lagi berusaha memanjat.
Selanjutnya, sang profesor mengeluarkan Ankey dan Benkey, dan memasukkan dua monyet baru Denkey dan Enkey. Seperti mudah ditebak, Denkey dan Enkey mencoba memanjat tiang untuk mendapatkan pisang. Namun Cenkey berusaha mati-matian untuk mencegah dan menahan dua kawannya itu. Ia seperti berusaha memberitahu kalau “ada sesuatu” dengan tiang dan pisang tersebut yang membahayakan siapa saja yang memanjat.
Usaha Cenkey berhasil mempengaruhi Denkey, tetapi Enkey agaknya punya pendiriannya sendiri. Enkey akhirnya memanjat dan menikmati pisang yang diperolehnya karena memang sang profesor tidak menyemprotkan air lagi.
Sang profesor dalam kisah di atas boleh ditafsirkan “mewakili” Tuhan, yang memudahkan seseorang dalam hal tertentu [memberi berkah] dan menyulitkan orang yang sama dalam hal yang lain [mengijinkan musibah]. Ia memainkan peran sebagai “faktor x” yang tak bisa direncanakan dan tak bisa diduga perilakunya. Sementara pisang merupakan wujud dari sasaran-sasaran atau cita-cita yang ingin dicapai oleh orang-orang tertentu, entah itu kekayaan, jabatan kekuasaan, kesehatan, keturunan, kecantikan, usia lanjut, atau apapun yang mungkin diinginkan manusia.
Ankey dan Benkey mewakili sosok orang kebanyakan. Awalnya mereka memiliki sejumlah cita-cita besar. Namun setelah beberapa kali gagal memperjuangkan cita-citanya, mereka akhirnya memutuskan untuk menyerah pada keadaan [nasib?]. Mereka menjadi trauma. Mereka takut gagal lagi. Dan pengalaman gagal kemudian menjadi semacam mantra yang siap ditularkan kepada siapa saja yang bersinggungan dengan mereka.
Cenkey, monyet ketiga, mewakili sosok orang-orang yang mudah percaya pada mitos-mitos negatif para pendahulunya. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka akan sangat bergantung pada pandangan lingkungan sekitarnya. Ketika lingkungan tak mendukung, kurang memberikan informasi yang dibutuhkan, atau bahkan mencoba menghambat langkah maju, maka mereka akan menyerah pada tuntutan lingkungan yang lebih tahu dan lebih “berpengalaman”. Atas nama tradisi, bakat, keturunan, dan nasib, kelompok manusia jenis Cenkey tidak perlu sampai mengalami sendiri proses kegagalan yang dramatis. Mereka mudah diyakinkan bahwa mereka tak berbakat dan pasti gagal, bahkan sebelum mencoba melakukan sesuatu sama sekali.
Denkey memiliki karakteristik yang tak banyak berbeda dengan Cenkey. Tetapi Enkey mewakili jenis manusia yang lain. Jenis manusia yang tak mudah dipengaruhi dan ingin memperjuangkan cita-citanya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak percaya pada faktor nasib, keturunan, atau bahkan bakat. Baginya, semua yang dicita-citakan harus diusahakan. Kalau perlu berbeda pandangan dengan orang lain, tak jadi soal. Kalau orang lain pernah gagal, tak berarti ia juga pasti gagal. Kalau orang lain menganggapnya tak bisa, itu bukan berarti ia otomatis menjadi tak bisa. Yang penting segala sesuatu harus dicoba. Dan sesuatu yang dianggap penting harus diperjuangkan sampai dapat, apapun hambatannya.
Kita juga dapat mengatakan bahwa Ankey dan Benkey adalah jenis orang yang terpenjara oleh masa lalu. Mereka bahkan memandang masa depan melalui masa lalu. “Jika kemarin aku gagal, maka besok pun aku pasti gagal,” demikian pola pikir mereka. Bahkan lebih parah lagi, entah secara sadar ataupun tidak, mereka menganggap, “Jika tahun lalu aku gagal, maka kalau si Cenkey mencoba besok, ia juga pasti gagal. Aku harus mencegahnya agar ia tidak gagal seperti diriku”. Dengan demikian, bagi Ankey dan Benkey, mencegah orang dari usaha mereka untuk meraih cita-cita besar adalah sesuatu yang “baik” dan “mulia”. Ankey dan Benkey akan mencoba mengajarkan orang-orang di lingkungan terdekatnya untuk “realistis” dalam menginginkan sesuatu. Mereka pandai dalam memberikan argumentasi tentang mengapa suatu hal itu menjadi “tidak mungkin”. Namun, mereka tidak pandai dalam soal menjelaskan bagaimana mengubah sesuatu yang “tidak mungkin” menjadi “mungkin”. Dengan lain perkataan, orang-orang tipe Ankey dan Benkey mudah menyebarkan virus pesimisme. Mereka adalah kaum pesimis berdasarkan pengalaman.
Cenkey dan Denkey bahkan lebih parah lagi. Mereka cenderung memilih tindakan yang “paling aman” setelah mempertimbangkan semua kritik dan saran yang disampaikan orang lain [lingkungan]. Mereka tidak memiliki cita-cita yang diinginkan dengan sungguh-sungguh, tetapi sekadar mengikuti kemana suara mayoritas membawa mereka. Mereka memiliki rasa minder potensial yang mudah berkembang ketika disiram oleh nasihat orang-orang “berpengalaman” model Ankey dan Benkey. Pola pikirnya kurang lebih, “Kalau orang seperti dia saja tidak bisa, apalagi aku”. Singkatnya, inilah model orang pesimis berdasarkan pelajaran dan pelatihan dari orang lain [bukan pengalaman langsung].
Enkey mewakili keberanian, kegigihan, sikap optimis dan pantang menyerah. Inilah jenis manusia yang mempelopori perubahan, melakukan terobosan, menghadirkan berbagai inovasi, dan membuat dunia nampak warna-warni dan penuh dinamika.
Kita bisa juga memaknai kisah para monyet itu secara lain. Ankey dan Benkey mewakili sisi tertentu dalam diri kita yang mudah menyerah. Sisi itu sering berpesan “Kemarin kamu sudah gagal, buat apa mencoba lagi. Nanti gagal lagi”. Cenkey dan Denkey mewakili sisi lain yang terpengaruh oleh pengalaman gagal dalam bidang tertentu. Sisi ini sering berpesan, “Kalau si Centil saja nggak tertarik sama kamu, apalagi dalam si Tamara” atau “Kalau bergaul saja kamu sudah, bagaimana bisa berbisnis”. Sementara Enkey mewakili sisi paling optimis dalam diri kita, yang berpesan “Selalu ada cara bagi yang gigih berusaha” atau “Sesuatu yang sulit itu tidak berarti mustahil”.
Nah, ketiga sisi tersebut bertarung tiap hari dalam diri kita, dalam sistem berpikir kita, dan hanya salah satu sisi yang “menang” pada suatu saat. Sisi yang paling sering kita menangkan—artinya ini soal pilihan, bukan soal nasib—itulah yang kemudian membentuk kebiasaan kita, apakah kita cenderung menjadi pesimis atau menjadi optimis dalam meraih cita-cita hidup di masa depan.
Jadi, ketika ada orang yang mengatakan bahwa kita tidak mungkin mencapai apa yang kita cita-citakan, jangan percaya. Sebab mereka mungkin adalah kaum pesimis berdasarkan pengalaman [Ankey-Benkey], atau pesimis karena dilatih [Cenkey-Denkey], sementara kita adalah kelompok optimis [Enkey]. Kejar terus cita-cita, jangan pernah menyerah.
Salam Proaktif!
Andrias Harefa
DI SEKOLAH kehidupan kita sering menemukan begitu banyak orang yang terjebak oleh trauma kegagalan di masa silam. Kegagalan yang pernah dialaminya dianggap sebagai sesuatu yang mutlak dan pasti terulang, sehingga membuat dirinya kapok untuk mencoba lagi. Bahkan bukan cuma itu. Perasaan “takut gagal lagi” itu kemudian secara sistematik ditularkan kepada sejumlah orang, entah itu rekan kerja atau bahkan anak-anak mereka sendiri. Dan ketika rasa “takut gagal” menjadi momok dalam sebuah lingkungan, maka sejumlah cita-cita besar kita dapati layu sebelum berkembang.
Ilustrasi yang menarik mengenai soal tersebut diatas dapat dipetik dari cerita yang beredar di internet, yang entah darimana asal-usulnya. Berikut petikannya:
Konon, ada seorang profesor di Amerika yang meneliti dua ekor monyet. Keduanya, sebut saja Ankey dan Benkey, dimasukkan ke dalam sebuah ruang kosong bersama-sama. Di dalam ruang terdapat sebuah tiang yang di atasnya terdapat sejumlah pisang yang sudah matang.
Setelah cukup menyamankan diri dengan lingkungan dalam ruang tersebut, Ankey dan Benkey kemudian mulai mencoba memanjat tiang untuk mendapatkan pisang yang menggiurkan itu. Mula-mula Ankey yang naik. Ketika berada di tengah, sang profesor menyemprotkan air ke arahnya, sehingga Ankey terpeleset dan jatuh. Penasaran, Ankey mencoba lagi, disemprot lagi, dan jatuh lagi. Begitu berulang kali, sampai Ankey menjadi kapok. Lalu Benkey mencoba. Ia mengalami hal yang sama berulang kali dan akhirnya ikut kapok.
Tak lama berselang, dimasukkanlah monyet ketiga, sebut saja Cenkey. Sang profesor sudah menetapkan untuk tidak lagi menyemprotkan air jika ada monyet yang memanjat tiang. Siapa pun yang memanjat pasti akan mendapatkan pisang yang ada. Anehnya, begitu Cenkey mulai menyentuh tiang untuk memanjat, ia langsung ditarik oleh Ankey dan Benkey. Mereka agaknya berusaha mencegah agar Cenkey tidak mengalami nasib serupa dengan mereka. Karena terus menerus dicegah oleh Ankey dan Benkey, maka akhirnya Cenkey terpengaruh dan tak lagi berusaha memanjat.
Selanjutnya, sang profesor mengeluarkan Ankey dan Benkey, dan memasukkan dua monyet baru Denkey dan Enkey. Seperti mudah ditebak, Denkey dan Enkey mencoba memanjat tiang untuk mendapatkan pisang. Namun Cenkey berusaha mati-matian untuk mencegah dan menahan dua kawannya itu. Ia seperti berusaha memberitahu kalau “ada sesuatu” dengan tiang dan pisang tersebut yang membahayakan siapa saja yang memanjat.
Usaha Cenkey berhasil mempengaruhi Denkey, tetapi Enkey agaknya punya pendiriannya sendiri. Enkey akhirnya memanjat dan menikmati pisang yang diperolehnya karena memang sang profesor tidak menyemprotkan air lagi.
Sang profesor dalam kisah di atas boleh ditafsirkan “mewakili” Tuhan, yang memudahkan seseorang dalam hal tertentu [memberi berkah] dan menyulitkan orang yang sama dalam hal yang lain [mengijinkan musibah]. Ia memainkan peran sebagai “faktor x” yang tak bisa direncanakan dan tak bisa diduga perilakunya. Sementara pisang merupakan wujud dari sasaran-sasaran atau cita-cita yang ingin dicapai oleh orang-orang tertentu, entah itu kekayaan, jabatan kekuasaan, kesehatan, keturunan, kecantikan, usia lanjut, atau apapun yang mungkin diinginkan manusia.
Ankey dan Benkey mewakili sosok orang kebanyakan. Awalnya mereka memiliki sejumlah cita-cita besar. Namun setelah beberapa kali gagal memperjuangkan cita-citanya, mereka akhirnya memutuskan untuk menyerah pada keadaan [nasib?]. Mereka menjadi trauma. Mereka takut gagal lagi. Dan pengalaman gagal kemudian menjadi semacam mantra yang siap ditularkan kepada siapa saja yang bersinggungan dengan mereka.
Cenkey, monyet ketiga, mewakili sosok orang-orang yang mudah percaya pada mitos-mitos negatif para pendahulunya. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka akan sangat bergantung pada pandangan lingkungan sekitarnya. Ketika lingkungan tak mendukung, kurang memberikan informasi yang dibutuhkan, atau bahkan mencoba menghambat langkah maju, maka mereka akan menyerah pada tuntutan lingkungan yang lebih tahu dan lebih “berpengalaman”. Atas nama tradisi, bakat, keturunan, dan nasib, kelompok manusia jenis Cenkey tidak perlu sampai mengalami sendiri proses kegagalan yang dramatis. Mereka mudah diyakinkan bahwa mereka tak berbakat dan pasti gagal, bahkan sebelum mencoba melakukan sesuatu sama sekali.
Denkey memiliki karakteristik yang tak banyak berbeda dengan Cenkey. Tetapi Enkey mewakili jenis manusia yang lain. Jenis manusia yang tak mudah dipengaruhi dan ingin memperjuangkan cita-citanya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak percaya pada faktor nasib, keturunan, atau bahkan bakat. Baginya, semua yang dicita-citakan harus diusahakan. Kalau perlu berbeda pandangan dengan orang lain, tak jadi soal. Kalau orang lain pernah gagal, tak berarti ia juga pasti gagal. Kalau orang lain menganggapnya tak bisa, itu bukan berarti ia otomatis menjadi tak bisa. Yang penting segala sesuatu harus dicoba. Dan sesuatu yang dianggap penting harus diperjuangkan sampai dapat, apapun hambatannya.
Kita juga dapat mengatakan bahwa Ankey dan Benkey adalah jenis orang yang terpenjara oleh masa lalu. Mereka bahkan memandang masa depan melalui masa lalu. “Jika kemarin aku gagal, maka besok pun aku pasti gagal,” demikian pola pikir mereka. Bahkan lebih parah lagi, entah secara sadar ataupun tidak, mereka menganggap, “Jika tahun lalu aku gagal, maka kalau si Cenkey mencoba besok, ia juga pasti gagal. Aku harus mencegahnya agar ia tidak gagal seperti diriku”. Dengan demikian, bagi Ankey dan Benkey, mencegah orang dari usaha mereka untuk meraih cita-cita besar adalah sesuatu yang “baik” dan “mulia”. Ankey dan Benkey akan mencoba mengajarkan orang-orang di lingkungan terdekatnya untuk “realistis” dalam menginginkan sesuatu. Mereka pandai dalam memberikan argumentasi tentang mengapa suatu hal itu menjadi “tidak mungkin”. Namun, mereka tidak pandai dalam soal menjelaskan bagaimana mengubah sesuatu yang “tidak mungkin” menjadi “mungkin”. Dengan lain perkataan, orang-orang tipe Ankey dan Benkey mudah menyebarkan virus pesimisme. Mereka adalah kaum pesimis berdasarkan pengalaman.
Cenkey dan Denkey bahkan lebih parah lagi. Mereka cenderung memilih tindakan yang “paling aman” setelah mempertimbangkan semua kritik dan saran yang disampaikan orang lain [lingkungan]. Mereka tidak memiliki cita-cita yang diinginkan dengan sungguh-sungguh, tetapi sekadar mengikuti kemana suara mayoritas membawa mereka. Mereka memiliki rasa minder potensial yang mudah berkembang ketika disiram oleh nasihat orang-orang “berpengalaman” model Ankey dan Benkey. Pola pikirnya kurang lebih, “Kalau orang seperti dia saja tidak bisa, apalagi aku”. Singkatnya, inilah model orang pesimis berdasarkan pelajaran dan pelatihan dari orang lain [bukan pengalaman langsung].
Enkey mewakili keberanian, kegigihan, sikap optimis dan pantang menyerah. Inilah jenis manusia yang mempelopori perubahan, melakukan terobosan, menghadirkan berbagai inovasi, dan membuat dunia nampak warna-warni dan penuh dinamika.
Kita bisa juga memaknai kisah para monyet itu secara lain. Ankey dan Benkey mewakili sisi tertentu dalam diri kita yang mudah menyerah. Sisi itu sering berpesan “Kemarin kamu sudah gagal, buat apa mencoba lagi. Nanti gagal lagi”. Cenkey dan Denkey mewakili sisi lain yang terpengaruh oleh pengalaman gagal dalam bidang tertentu. Sisi ini sering berpesan, “Kalau si Centil saja nggak tertarik sama kamu, apalagi dalam si Tamara” atau “Kalau bergaul saja kamu sudah, bagaimana bisa berbisnis”. Sementara Enkey mewakili sisi paling optimis dalam diri kita, yang berpesan “Selalu ada cara bagi yang gigih berusaha” atau “Sesuatu yang sulit itu tidak berarti mustahil”.
Nah, ketiga sisi tersebut bertarung tiap hari dalam diri kita, dalam sistem berpikir kita, dan hanya salah satu sisi yang “menang” pada suatu saat. Sisi yang paling sering kita menangkan—artinya ini soal pilihan, bukan soal nasib—itulah yang kemudian membentuk kebiasaan kita, apakah kita cenderung menjadi pesimis atau menjadi optimis dalam meraih cita-cita hidup di masa depan.
Jadi, ketika ada orang yang mengatakan bahwa kita tidak mungkin mencapai apa yang kita cita-citakan, jangan percaya. Sebab mereka mungkin adalah kaum pesimis berdasarkan pengalaman [Ankey-Benkey], atau pesimis karena dilatih [Cenkey-Denkey], sementara kita adalah kelompok optimis [Enkey]. Kejar terus cita-cita, jangan pernah menyerah.
Salam Proaktif!
Andrias Harefa
10 Motivasi Hebat dari Orang Terkaya di Zimbabwe, Afrika
Ia merupakan salah satu pengusaha paling terkenal di Afrika.
Strive Misiyiwa adalah orang terkaya di Zimbabwe, dan merupakan salah satu pengusaha paling terkenal di Afrika.
Dilansir Forbes, Senin 7 Juli 2014, majalah ekonomi terkemuka ini memperkirakan jumlah kekayaan Misiyiwa mencapai US$600 juta.
Dia merupakan pendiri Econet Wireless Group, perusahaan telekomunikasi seluler Pan-Afrika yang beroperasi di seluruh Afrika, Inggris, dan Selandia Baru. Misiyiwa juga menjadi anggota dewan penasihat di Rockefeller Foundation dan dewan hubungan luar negeri.
Misiyiwa mengelola akun Facebook miliknya ke publik sebagai metode pembelanjaran bagi pengusaha pemula di Afrika.
Melalui Facebooknya tersebut, dia mengenang pengalaman masa lalu dan membagi pelajaran tentang kesuksesan dalam bisnis dan kehidupan.
Akun Facebook miliknya itu menjadi sangat populer dengan lebih dari 35 ribu likes. Selain itu, raksasa perusahaan telekomunikasi seluler yang dibangunnya, dan kini berusia 53 tahun sangat menginspirasi banyak orang untuk bisa mengikuti jejaknya.
Berikut adalah 10 motivasi hebat yang ditulis Misiyiwa dalam akun Faceboook miliknya.
1. Integritas adalah modal yang lebih baik dibanding uang. Anda dapat menumpuknya seperti uang, dan Anda dapat menggunakannya seperti uang, tetapi itu jauh lebih baik dan abadi.
2. Jika korupsi bisa diberantas, tidak ada anak yang tidur dengan perut lapar, tidak akan ada ketidakadilan, setiap anak akan berada di sekolah. Kekuatan yang paling kuat untuk melawan korupsi adalah salah satu orang yang mampu berkata "tidak".
3. Sikap menentukan kualitas diri Anda. Jika Anda memiliki sikap buruk, Anda akan runtuh dengan sendirinya dan tidak akan mencapai tujuan. Sikap buruk akan membuat Anda tidak akan memiliki kemajuan apa-apa.
4. Anda hanya dapat menemukan peluang jika Anda mencari mereka.
5. Dalam hidup Anda tidak cukup hanya memiliki visi. Tetapi, harus mau bekerja keras dan berdedikasi untuk mewujudkan impian itu menjadi kenyataan.
6. Berwirausaha tanpa memiliki keterampilan justru akan membatasi potensi pertumbuhan Anda.
7. Petani atau sarjana, memiliki peluang yang sama untuk meraih kesuksesan. Mereka hanya perlu berinovasi, tetapi hanya sedikit saja yang melakukan itu.
8. Masalah adalah kesempatan. Kesempatan bagi manusia untuk bisa menciptakan peluang dengan mencoba untuk menyelesaikannya.
9. Orang Afrika harus percaya bahwa dia pasti mampu membangun perusahaan yang memiliki pengaruh global.
10. Jika Anda bekerja atau sedang menjalankan bisnis, Anda harus bisa menyisihkan waktu untuk melanjutkan pendidikan formal dan menambah keterampilan.
Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/519508-10-motivasi-hebat-dari-orang-terkaya-di-zimbabwe--afrika
Subscribe to:
Posts (Atom)