Monday, November 9, 2015

Nilai Kita

Dia berkulit hitam, lahir di daerah kumuh Brooklyn, New York, ia melewati kehidupannya dlm lingkungan miskin dan penuh diskriminasi, Suatu hari ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya: “Menurutmu, brp nilai pakaian ini?” Ia menjawab: “Mungkin USD 1.” “Bisakah dijual seharga USD 2? Jk berhasil, berarti engkau telah membantu ayah dan ibumu “Saya akan mencobanya,” ia membawa pakaian itu ke stasiun kereta bawah tanah dan menjual selama lebih dari enam jam, akhirnya ia berhasil menjual USD 2 dan berlari pulang,

Kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya: “Coba engkau menjual seharga USD 20?” Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling hanya USD 2. Ayahnya berkata “Mengapa engkau tidak mencobanya dulu? ” Akhirnya, ia mendapatkan ide, ia meminta bantuan sepupunya untuk menggambarkan seekor Donal Bebek yang lucu dan seekor Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu, ia lalu menjualnya di sekolah anak org kaya, dan laku USD25,

ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya: “Apakah engkau mampu menjualnya dengan harga USD 200?.Kali ini ia menerima tanpa keraguan sedikit pun, kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farrah Fawcett berada di New York,sehabis konferensi pers, ia pun menerobos penjagaan pihak keamanan dan meminta Farrah Fawcett membubuhkan tanda tangan di pakaian bekasnya.dan kemudian terjual USD 1500.

Malam nya. Ayahnya bertanya: “Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian ini apa yang engkau pahami?” Ia menjawab “Selama kita mau berpikir pasti ada caranya. ”Ayahnya menggelengkan kepala: “engkau tidak salah!

Tapi bukan itu maksud ayah, ayah hanya ingin memberitahukanmu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia? Mungkin kita berkulit gelap dan miskin, tapi apa bedanya?”

Sejak itu, ia belajar dengan lebih giat dan menjalani latihan lebih keras, dua puluh tahun kemudian, namanya terkenal ke seluruh dunia. Ia adalah MICHAEL JORDAN!

Kekuatan Seorang Pria

Saudaraku!

Kekuatan seorang pria tidak tercermin pada lebar bahunya, Tapi dalam lebar lengan yang merangkul keluarganya.

Kekuatan seorang pria tidak dalam nada keras suaranya, Tapi dalam kata-kata lembut yang diucapkannya.

Kekuatan seorang pria bukan dari berapa banyak teman2nya, Tapi bagaimana cara baik ia memperlakukan istri dan anak-anaknya.

Kekuatan seorang pria bukan bagaimana ia dihormati di tempat kerja, Tapi dalam bagaimana ia dihormati di rumahnya.

Kekuatan seorang pria tidak diukur dari keras tidak pukulannya, Tapi ada dalam sentuhan lembutnya.

Kekuatan seorang pria bukan pada bidang dadanya, Tapi ada dalam hatinya, yang terletak di dalam dada.

Kekuatan seorang pria bukan dari berapa banyak wanita yang ia cintai, Tapi dalam kesetiaannya kepada hanya seorang wanita.

Kekuatan seorang pria bukan dari seberapa kuat ia bisa mengangkat, Tapi seberapa dalam beban yang ditanggungnya.

Kekuatan seorang pria bukan hanya mengandalkan IQ nya saja tapi juga EQ, pengelolaan emosi secara positif.

Saudaraku...!

Bapak-Bapak para suami, tunjukkan kekuatan Anda dengan berkumpul dengan keluarga, menyayangi Anak dan istri Anda, memuliakan mereka dan membahagiakannya.

Buktikan kekuatan Anda sebagai seorang pria dengan bertutur kata yg lembut dan membelai istri dan Anak Anda serta menunjukkan kesetiaan Anda kepada mereka.

Saturday, November 7, 2015

Kata-Kata Steve Job Pada Saat Berbaring

Dalam dunia bisnis, aku adalah simbol dari kesuksesan, seakan-akan harta dan diriku tidak terpisahkan, karena selain kerja, hobbyku tak banyak.

Saat ini aku berbaring di rumah sakit, merenung jalan kehidupanku kekayaan, nama, kedudukan semuanya itu tidak ada artinya lagi.

Malam yang hening, cahaya & suara mesin di sekitar ranjangku, bagaikan nafasnya maut kematian yang mendekat pada diriku.

Sekarang aku mengerti, seseorang asal memiliki harta secukupnya buat diri gunakan itu udah cukup. Mengejar kekayaan tanpa batas bagaikan monster yang mengerikan!

Tuhan memberi kita organ-organ perasa, agar kita bisa merasakan cinta kasih yang terpendam  dalam hati kita yang paling dalam. Tapi bukan ke gembiraan yang datang dari kehidupan yang mewah, itu hanya ilusi saja.

Harta kekayaan yang aku peroleh saat aku hidup, tak mungkin bisa aku bawa pergi.
Yang aku bisa bawa adalah kasih yang murni yang selama ini terpendam dalam hatiku.
Hanya cinta kasih itulah yang bisa memberiku kekuatan dan terang.

Ranjang apa yang termahal di dunia ini?
Ranjang orang sakit!
Orang lain bisa bukakan mobil untukmu, orang lain bisa kerja untukmu, tapi tidak ada orang bisa menggantikan sakitmu.

Barang hilang bisa didapat kembali, tapi nyawa hilang tak bisa kembali lagi.
Saat kamu masuk ke ruang operasi, kamu baru sadar bahwa kesehatan itu betapa berharganya.

Kita berjalan di jalan kehidupan ini
Dengan jalan nya waktu
Suatu saat akan sampai tujuan.

Bagaikan panggung pentas pun tirai panggung akan tertutup, pentas telah berakhir.

Yang patut kita hargai dan sayangkan adalah hubungan kasih antar keluarga, cinta akan suami-istri dan juga kasih persahabatan antar teman.

Steve Jobs-
Apple Founder

Monday, November 2, 2015

Aku Mau Menjadi Orang Yang Bertepuk Tangan di Tepi Jalan

“IBU, AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN.”
(Sangat Menginspirasi, Sempatkan baca dan share)

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kenaikan kelas, anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orangpun bertepuk tangan.

Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Didesak orang banyak, akhirnya dia menjawab:..... "Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main".

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua. Diapun menjawab: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK?

Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami, tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23.

Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.
Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai.

Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA.

Semua teman sekelasnya menuliskan nama : ANAKKU!

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi.

Si wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”. Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba2 menjawab “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

“IBU, …..AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, …. AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN.”

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun Anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan.

Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya, MENGAPA ANAK2 KITA TIDAK BOLEH MENJADI SEORANG BIASA YANG BAIK DAN JUJUR !

Ular dan Gergaji

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di sore hari.
Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan & tidak merapikannya.

Nah ketika ular itu masuk kesana, secara kebetulan ia merayap di atas gergaji.
Tajamnya mata gergaji menyebabkan perut ular terluka.
Ular beranggapan gergaji itu menyerangnya.
Ia pun membalas dgn mematuk gergaji itu berkali-kali.
Serangan yang bertubi-tubi menyebabkan luka parah di bagian mulutnya.
Marah & putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya utk mengalahkan musuhnya.

Ia pun lalu membelit kuat gergaji itu.
Belitan yang menyebabkan tubuhnya terluka amat parah, akhirnya ia pun binasa....
Di pagi hari si tukang kayu menemukan bangkai ular di sebelah gergaji kesayangannya.

Kadangkala di saat marah, kita ingin melukai orang lain.
Setelah semua berlalu, kita baru menyadari bahwa yang terlukai sebenarnya adalah diri kita sendiri.
Banyaknya perkataan yang terucap & tindakan yang dilakukan saat amarah menguasai,
sebanyak itu pula kita melukai diri sendiri.

”Org yang tak berpengalaman mendapat kebodohan, tetapi orang yang bijak bermahkotakan pengetahuan.”

Tak ada musuh yang tak dapat di taklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat di sembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat di pecahkan oleh kesabaran.

Semua itu haruslah berasal dari pikiran kita.
Ketahuilah Dendam Benci/kacau/curiga/prasangka buruk/pikiran buruk apapu itu, bagaikan ular yang kita Belit/ikat sangat kuat dlm ingatan, telah ribuan kali muncul dlm pikiran kita yang menusuk & membakar batinnya sendiri.

Latih setiap detik jadi manusia Pemaaf,  mampu dgn cepat lepas & buang sampah pengotor batin ini.
Piawai di dlm membersihkan pikiran seperti ini.

Moral Di Atas IQ

Dua belas tahun lalu, seorang wanita pergi kuliah ke Prancis.
Karena kemiskinan dia harus kerja dan sambil kuliah.
Dia perhatikan bahwa sistem transportasi di tempat itu menggunakan sistem "otomatis", artinya anda beli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin.
Setiap perhentian kendaraan umum pakai cara "self-service" dan jarang sekali diperiksa petugas.
Bahkan periksa insidentil oleh petugas pun hampir tidak ada.

Setelah dia temukan kelemahan sistem ini, dengan kelicikannya dia perhitungkan kemungkinan tertangkap petugas karena tidak beli tiket sangat kecil.
Sejak itu, dia selalu naik kendaraan umum dengan tidak membayar tiket.
Dia bahkan merasa bangga atas kepintarannya.

Dia juga menghibur dirinya karena dia anggap dirinya adalah murid miskin, dan kalo bisa irit ya irit.
Namun, dia tidak sadar dia sedang melakukan kesalahan fatal yang akan mempengaruh karirnya...

Setelah 4 thn berlalu, dia tamat dari fakultas yang ternama dengan angka yang sangat bagus.
Ini membuat dirinya penuh dengan keyakinan. Dia mulai memohon kerja di perusahan yang ternama di Paris dengan pengharapan besar untuk diterima.

Pada mulanya, semua perusahan ini menyambut dia dengan hangat.
Namun berapa hari kemudian, semuanya menolak dia untuk berkerja.

Kegagalan yang terjadi berulang kali membuat dia sangat marah.
Dia mulai anggap perusahan-perusahan ini rasis, tidak mau terima warga negara asing. Akhirnya, dia memaksa masuk ke departemen tenaga kerja untuk bertemu dengan managernya.
Dia ingin tahu alasan apa perusahan menolak bekerja.
Ternyata, penjelasannya di luar sangkaan dia...

Berikutnya adalah dialog mereka...

Manager: Nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkanmu.
Pada saat anda mohon bekerja di perusahan, kami terkesan dengan pendidikan dan pencapaian anda. Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, anda sebenarnya pekerja yang kami cari-cari.

Wanita: Kalau begitu, kenapa perusahan tidak terima aku bekerja?

Manager: Karena kami periksa sejarahmu, ternyata anda pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik kendaraan umum.

Wanita: Aku mengakuinya, tapi masa karena perkara kecil ini perusahan menolak pekerja yang mahir dan banyak kali tulisannya terbit di majalah?

Manager: Perkara kecil? Kami tidak anggap ini perkara kecil.
Kami perhatikan pertama kali anda melanggar hukum terjadi di minggu pertama anda masuk di negara ini.
Petugas percaya dengan penjelasan bahwa anda masih belum mengerti sistem pembayaran.
Diampuni, tapi anda tertangkap 2x lagi setelah itu.

Wanita: Oh karena tidak ada uang kecil saat itu.

Manager: Tidak, tidak. Kami tidak bisa terima penjelasan anda.
Jangan anggap kami bodoh.
Kami yakin anda telah melakukan penipuan ratusan kali sebelum tertangkap.

Wanita: Itu bukan kesalahan mematikan kan?
Kenapa harus begitu serius?
Lain kali saya berubah kan masih bisa.

Manager: Saya tidak anggap demikian. Perbuatan anda membuktikan dua hal:

1. Anda tidak mengikuti peraturan yang ada

Anda pintar mencari kelemahan dlm peraturan dan memanfaatkan untuk diri sendiri.

2. Anda tidak bisa dipercaya

Banyak pekerjaan di perusahan kami tergantung pada kepercayaan.
Jika anda diberikan tanggungjawab atas penjualan di sebuah wilayah,
maka anda akan diberikan kuasa yang besar.
Demi ongkos, kami tidak sanggup memakai sistem kontrol untuk mengawasi pekerjaanmu.
Perusahan kami mirip dengan sistem transportasi di negeri ini. Oleh sebab itu, kami tidak bisa pakai anda.
Saya berani katakan, di negara kami bahkan seluruh Eropa, tidak ada perusahan yang mau pakai anda.

Pada saat itu, wanita ini seperti bangun dari mimpinya dan sangat menyesal.
Perkataan manager yang terakhir membuat hatinya gentar.

Moral dan etika bisa menutupi kekurangan IQ atau kepintaran.

Tetapi IQ atau kepintaran bagaimanapun tidak akan bisa menolong etika yang buruk.

Thursday, October 29, 2015

My Bag, My Mind (Tasku, Pikiranku)

My bag, setiap hari sebagian besar dari kita membawa tas kerja dalam perjalanan pergi dan pulang kantor.

Waktu libur, cobalah bongkar semua isi tas kita. Ternyata kadang sepertiga atau separuh dari isi tas itu adalah barang2 yg sdh tidak kita perlukan: struk ATM yg sdh buram, agenda/buku yg jarang dibaca, sekumpulan uang logam yg kotor, pen yg sudah macet/habis tinta, kertas2 brosur kadaluarsa dsbnya. Meski mungkin ringan, tetapi umumnya barang2 yg tdk diperlukan itu terus menambah berat tas kita, sehingga kita sebaiknya menyortir & membuang barang2 yg tdk berguna yg membebani tas kita.

My Mind, kadang mirip dgn My Bag di atas, pikiran kita (tanpa disadari) selama ini sering kita bebani dgn hal2 yg tdk perlu: penyesalan masa lalu, kecewa, jengkel, iri, egois, kurang kooperatif, perasaan tdk puas atas kondisi yg terjadi, rendah diri, konflik keluarga dan sebagainya. Pikiran2 yg tdk perlu itu akan terus membebani perjalanan hidup kita, sehingga dampaknya raut wajah akan kelihatan suntuk, jutek, stress, hidup kurang nyaman, dan yg parah adalah kita akan membenci hal-hal yg tak sesuai dgn kemauan kita.

Yang harus kita lakukan terhadap My Mind adalah sama dgn apa yang kita lakukan dengan My Bag di atas. Sortir & buanglah segala beba
n pikiran yg tdk ada manfaatnya itu..selamat beberes 😄

Mengapa Kita Berteriak Saat Marah

Konon, ketika seorang Ibu memandikan anak di tepi sungai Gangga, ia melihat ada keluarga yg sedang bertengkar, saling berteriak...

Ia berpaling ke anak2nya & bertanya:
"Kenapa orang suka saling berteriak kalau sedang marah?"
tanya Ibu tsbt

Salah satu menjawab: "Karena kehilangan sabar, kita berteriak"

"Tetapi, kenapa harus berteriak pada orang yg ada di sebelahmu?
Kan, pesannya bisa juga sampai dgn cara halus?" tanya Ibu tsbt..

Murid2 saling adu jawaban, namun tidak ada satu yg mereka sepakati.

Akhirnya sang Ibu bertutur:
"Bila 2 orang bermarahan, hati mereka sangat menjauh.
Untuk dapat menempuh jarak yg jauh itu, mereka harus berteriak agar terdengar.
Semakin marah, semakin keras teriakan karena jarak ke 2 hati pun semakin jauh."

"Apa yg terjadi saat 2 insan jatuh cinta?" lanjutnya.
"Mereka tidak berteriak satu sama lain.
Mereka berbicara lembut krn hati mereka berdekatan.
Tidak ada jarak antara kedua hati".

Setelah merenung sejenak, ia meneruskan.
"Bila mereka semakin saling mencintai,
apa yg terjadi?
Mereka tidak lagi bicara. Hanya berbisikan & saling mendekat dalam kasih-sayang.
Akhirnya mereka bahkan tdk perlu lagi berbisikan.
Mereka cukup saling memandang.
Itu saja...
Sedekat itulah 2 insan yg saling mengasihi"

Ibu itu memandang anak2nya & mengingatkan dgn lembut:
"Jika terjadi pertengkaran, jgn biarkan hati menjauh.
Jangan ucapkan perkataan yg membuat hati kian menjauh.
Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak lagi bisa ditempuh".....

🎉😉..semoga bermanfaat

Monday, August 17, 2015

Tuesday, August 11, 2015

The Legend of Cliff Young

While others run fast, you can just shuffle with perseverance.
While others impress, you can simply press on.
While others stop for the dark, you can run through the dark.





















In one of our past MEDA reflections, we heard about the value of honesty and integrity in our work, and the importance of paying attention to the seeds we sow.

One of the many other values and attributes that I believe we hold true here in our work at MEDA is perseverance.

I was doing a bit of research on this word, and came upon a few great quotes. Here are a few I thought were interesting:

  • "It's not that I'm so smart, it's just that I stay with problems longer." ~ Albert Einstein
  • "Consider a postage stamp: its usefulness consists in the ability to stick to one thing until it gets there."
  • And the mantra of the marketing department - "The greatest oak was once a little nut who held its ground."
The most interesting find in my research was a true story about an Australian runner named Cliff Young, which I'd like to share with you.

I'd like to dedicate this story of perseverance to the one MEDA staff person who models this for us - Julie Redfern (perseverance in cycling and engagement)

Cliffyoung1983

Between the years 1983 and 1991, Australia hosted an 875-kilometer endurance racing from Sydney to Melbourne – considered at the time to be the world's longest and toughest ultra-marathon. It's a race that takes a week and normally participated by world-class athletes who train specially for the event. Backed by big names in sports like Nike, these athletes are mostly, less than 30 year old men and women, equipped with the most expensive sponsored training outfits and shoes.

In 1983, these top class runners were in for a surprise. On the day of the race, a guy named Cliff Young showed up. At first, no one took notice of him since everybody thought he was there to watch the event. After all, he was 61 years old, and he showed up in overalls and galoshes over his work boots to a running event.

As Cliff walked up to the table to take his number, it became obvious to everybody he was going to run. Everybody thought that it was a crazy publicity stunt. But the press was curious, so as he took his number 64, a reporter asked:

"Who are you and what are you doing?"

"I'm Cliff Young. I'm from a large ranch where we run sheep outside of Melbourne."

They said, "You're really going to run in this race?"

"Yeah," Cliff nodded.

"Got any backers?"

"No."

"Then you can't run."

"Yeah I can." Cliff said. "See, I grew up on a farm where we couldn't afford horses or four wheel drives, and the whole time I was growing up – whenever the storms would roll in, I'd have to go out and round up the sheep. We had 2,000 head, and we have 2,000 acres. Sometimes I would have to run those sheep for two or three days. It took a long time, but I'd catch them. I believe I can run this race; it's only two more days. Five days. I've run sheep for three."

When the marathon started, the pros immediately left Cliff behind in his galoshes. The crowds smiled because Cliff didn't even run correctly. Instead of running, he appeared to run leisurely, shuffling forward like an amateur.

Now, the 61-year-old potato farmer from Beech Forest , who took out his teeth when he ran because they rattled, had started the ultra-tough race with world-class athletes. All over Australia, people who watched the live telecast kept on praying that someone would stop this crazy old man from running because everyone believed he'll die before even getting halfway across Sydney.

Professional athletes knew for certain that it took about 7 days to finish this race, and that in order to compete, you would need to run 18 hours and sleep 6 hours. The thing is, Cliff Young did not know that!

When the morning news of the race was aired, people were in for another big surprise. Cliff was still in the race and had jogged all night down to a city called Mittagong.

Apparently, Cliff did not stop after the first day. Although he was still far behind the world-class athletes, he kept on running. He even had the time to wave to spectators who watched the event by the highways.

He kept running. Every night he got just a little bit closer to the leading pack. By the last night, he passed all of the other athletes. By the last day, he was way in front of them.

Not only did he run the Melbourne to Sydney race at age 61, without dying; he won first place, breaking the race record by 9 hours and became a national hero! The nation fell in love with the 61-year-old potato farmer who came out of nowhere to defeat the world's best long distance runners. He finished the 875-kilometre race in 5 days, 15 hours and 4 minutes.

Not knowing that he was supposed to sleep during the race, he said when he was running, he imagined that he was chasing sheep and trying to outrun a storm.

When Cliff was awarded the first prize of $10,000, he said he did not know there was a prize and insisted that he had not entered for the money.

He said, "There're five other runners still out there doing it tougher than me," and he gave them $2,000 each. He did not keep a single cent for himself. That single act endeared him to all of Australia.

His story of perseverance doesn't end there though -

In the following year, Cliff Young entered the same race and won 7th place. During the race, his hip popped out of the joint socket, his knee played up and he endured shin splints. But that didn't deter him from finishing the race. When he was announced as the winner for most courageous runner and presented with a Mitsubishi Colt, he said, "I didn't do it near as tough as Bob McIlwaine. Here, Bob, you have the car," and gave the keys to him.

It was said that Cliff Young never kept a single prize. People gave him watches, because he never had one. He would thank them because he did not want to hurt their feelings, but will then give it away to the first child he saw. He did not understand why he would need a watch because, he said, he knew when it was daylight, when it was dark, and when he was hungry.

Cliff Young, the running legend passed away on November 2, 2003. He was 81.

Today, the "Young-shuffle" has been adopted by ultra-marathon runners because it is considered more energy-efficient. At least three champions of the Sydney to Melbourne race have used the shuffle to win their races.

Cliff was a humble, average man, who undertook an extraordinary feat and became a national sensation. Cliff's awesome example of perseverance and generosity will be remembered for generations to come.
Source: http://www.meda.org/connect/meda-blog-stories-from-the-field/personal-reflections/438-the-legend-of-cliff-young-staff-reflection-steve-sugrim

I Have Decided to Follow Jesus

"I Have Decided to Follow Jesus" is a Christian hymn originated from India.

The lyrics are based on the last words of a man in Garo, Assam, north-east India.
About 150 years ago, there was a great revival in Wales, England.
As a result of this, many missionaries came from England and Germany to North-East India to spread the Gospel.
At the time, north-east India was not divided into many states as it is today.

The region was known as Assam and comprised hundreds of tribes.
The tribal communities were quite primitive and aggressive by nature.

The tribals were also called head-hunters because of a social custom which required the male members of the community to collect as many heads as possible.

A man’s strength and ability to protect his wife was assessed by the number of heads he had collected.
Therefore, a youth of marriageable age would try and collect as many heads as possible and hang them on the walls of his house.
The more heads a man had, the more eligible he was considered.

Into this hostile and aggressive community, came a group of Welsh missionaries spreading the message of love, peace and hope of Jesus Christ.
Naturally, they were not welcomed.
One Welsh missionary shared gospel &  a man, his wife, and two children believed in Jesus.

This man’s faith proved contagious and many villagers began to accept Christ.

Angry, the village chief summoned all the villagers.
He then called the family who had first converted to renounce their faith in public or face execution.

Moved by the Holy Spirit, the man instantly composed a song which became famous down the years.
He said:
"I have decided to follow Jesus. No turning back, no turning back."

Enraged at the refusal of the man, the chief ordered his archers to arrow down the two children.
As both boys lay twitching on the floor, the chief asked, “Will you deny your faith? You have lost both your children. You will lose your wife too.”

But the man said these words in reply:
"Though no one joins me, still I will follow. No turning back, no turning back."

The chief was beside himself with fury and ordered his wife to be arrowed down.

In a moment she joined her two children in death.

Now he asked for the last time, “I will give you one more opportunity to deny your faith and live.”

In the face of death the man said the final memorable lines:
"The cross before me, the world behind me. No turning back, no turning back."

He was shot dead like the rest of his family. But with their deaths, a miracle took place.

The chief who had ordered the killings was moved by the faith of the man.
He wondered, “Why should this man, his wife and two children die for a Man who lived in a far-away land on another continent some 2,000 years ago?
There must be some remarkable power behind the family's faith, and I too want to taste that faith.”

In a spontaneous confession of faith, he declared, “I too belong to Jesus Christ!”

When the crowd heard this from the mouth of their chief, the whole village accepted Christ as their Lord and Savior.
The tune for the song was given by Sadhu Sundar Singh few years later when he stumbled upon some historical literature and read about this incident during one of his travels to the North East.
This is one of the most powerful songs composed by a man who gave his life for Christ, which became the reason for the salvation of the whole tribe. The tune given by a man who forsook everything in his life for the sake of Christ.
The combination of both these great lives makes this song filled with vitality to generate more followers of Christ even today.

Dr APJ Abdul Kalam - Love Your Job


Monday, February 9, 2015

Ubuntu: A very nice story...!

An Anthropologist proposed one game to the kids of African tribal children. He placed a basket of fruits near a tree. And made them stand 100 metres away. And announced that who ever reaches first would get all the fruits in the basket. When he said ready steady go... Do you know what these small children did? They all caught each other's hands and ran towards the tree together, divided the fruits among them and ate the fruits and enjoyed it. When the Anthropologist asked them why you did so? They said 'Ubuntu' Which meant: 'How can one be happy when all the others are sad?' Ubuntu in their language means: 'I am because, we are!' Let's all of us always carry this attitude within us and spread happiness, wherever we go...!

Bruce Lee - Exceed Level


Abraham Lincoln - Rejoice


Khalil Gibran - Sesuatu yang Sempurna

Suatu hari, Khalil Gibran bertanya kepada gurunya: "Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup..?"

Sang Guru: "Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang..!".

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Khalil Gibran kembali dengan tangan hampa, lalu Sang Guru bertanya: "Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun...???"

Gibran: "Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi..!"

Sambil tersenyum, Sang Guru berkata: "Ya, itulah hidup.. semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, "Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita utk menerima kekurangan.."

• Bila tak bisa memberi,
JANGAN MENGAMBIL.

• Bila mengasihi terlalu sulit,
JANGAN MEMBENCI.

• Bila tak mampu menghibur orang,
JANGAN MEMBUAT SEDIH oranglain.

• Bila tak mungkin meringankan beban orang lain,
JANGAN MEMPERSULIT / MEMBERATKAN oranglain.

• Bila tak sanggup memuji,
JANGAN MENGHUJAT/MENGHAKIMI.

• Bila tak bisa menghargai,
JANGAN MENGHINA.

"JANGAN CARI KESEMPURNAAN, tapi SEMPURNAKAN lah apa yg telah ada pada kita"

1 TO 10 - FANTASTIC WORDS

The most selfish one letter word.
 
             " I "
    ✂Avoid it.✂

The most satisfying two letter word.

              "We"
       ✌Use it.✌

The most poisonous three letter word.

               "Ego"
        🔫 Kill it.🔫

The most used four letter word.      

               "LOVE"
        💰Value it.💰

The most pleasing five letter word.

              "Smile"
       😊 Keep it 😊
.
The fastest spreading six letter word. 

               "Rumour"
         ✖Ignore it.✖
.
The hard working seven letter word.

              "Success"
       🏆 Achieve it. 🏆
.
The most enviable eight letter word.

             "Jealousy"
        ↔Distance it.↔
.
The most powerful nine letter word.

           "Knowledge"
        📘Acquire it.📘
.
The most divine ten letter word.

           "Friendship"
      👬Maintain it....

Wednesday, January 21, 2015

Sofiyudin, Pembuat Template Asli Indramayu Yang Mendunia

Sofiyudin sewaktu menjadi pembicara HUT Ke-1 Komunitas Blogger Indramayu

Indramayu itu sebenarnya hebat tetapi lagi-lagi image atau kesan negatif tentang Indramayu masih melekat kuat. Untuk itu kami (Komunitas Blogger Indramayu) akan terus menggali orang-orang berprestasi dan juga terus mencari informasi menarik dari Indramayu, agar kesan negatif itu perlahan mulai berubah dan Indramayu itu sebenarnya tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia. 

Salah satu orang asli dari Indramayu yang satu ini bisa menjadi kebanggaan Indramayu. Karena dari hasil karyanya di dunia maya menjadikan Indramayu lebih dikenal oleh orang dari daerah lain di Indonesia dan juga dunia. Dia adalah Sofiyudin atau sering dipanggil oleh rekan-rekannya dengan nama Ifos

Pria kelahiran dari Kamplong Gabuswetan ini mempunyai hobi membuat template. Template sendiri adalah tampilan untuk blog atau website. Pria yang punya hobi lain bermain futsal ini telah menjual ratusan bahkan ribuan template kepada konsumennya yang berasal dari Indonesia dan luar negeri. 
Ifos tidak bekerja seperti orang pada umumnya yang harus pergi ke kantor, melainkan dia bekerja cukup di kamar di depan komputer dan akses internet menggunakan sarung atau celana pendek dan tidak ada yang mengatur harus mengerjakan ini dan itu. 
Kini dia memfokuskan diri untuk menjual hasil karyanya tersebut di situs yang dikhususkan untuk menjual template hasil karyanya yang biasanya digunakan untuk para blogger atau enterpreneur dalam membuat template situs atau toko jual beli online. 
Nama marketplace template besutan Sofiyudin ini adalah Asistentoko.com. Saat ini ribuan anggotanya yang tersebar tidak hanya di Indonesia tetapi dari seluruh dunia. Untuk menjadi anggota atau member Asisten Toko ini, Anda harus mendaftarkan secara gratis, sementara untuk menjadi anggota premium anda dikenakan biaya pendaftaran 250 ribu rupiah. 
Jika Anda sudah menjadi anggota atau member premium Asisten toko, Anda bebas mendownload template yang disediakan olehnya di situs tersebut. Tetapi Ifos tidak memberikan toleransi kepada anggotanya yang menjual template tersebut kepada orang lain, tetapi dia menyarankan kepada anggotanya untuk memberikan jasa pembuatan situs atau blog jual beli secara online bukan menjual templatenya yang sudah menjadi hak ciptanya. 
Pria yang baru mempunyai anak satu ini tidak pelit ilmu dan sering berbagi kepada siapa pun yang membutuhkan bantuannya terutama dalam hal template atau tampilan blog atau situs. Sehingga tampilannya blog atau situsnya menjadi menarik, elegan, CEO friendly dan responsif untuk berbagai perangkat termasuk smartphone dan tablet. 
Ifos sering diundang menjadi pembicara diberbagai tempat, termasuk dia juga pernah didapuk menjadi pembicara Komunitas Blogger Indramayu dalam acara Seminar Indramayu Ayo Ngeblog beberapa waktu yang lalu. Dia menceritakan pengalamannya membuat template hanya dalam dua pekan saja market place miliknya yakni Asisten Toko telah menghasilkan puluhan juta rupiah. 
Kini dia memiliki target dalam hidupnya untuk bisa membeli mobil baru dari usahanya di dunia maya terutama menjual template blog atau situs jual beli online. Menurutnya tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia ini selama kita berusaha dan berdoa. Mudah-mudahan cita-citanya segera terwujud, dan sekali lagi ini membuktikan bahwa orang Indramayu itu hebat tidak kalah dengan daerah lain.

Sumber: http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3d3dy5ibG9nZ2VybWFuZ2dhLmNvbS8yMDE1LzAxL2luaWxhaC1kYWZ0YXItcGFzc3dvcmQteWFuZy1tdWRhaC5odG1s  

Monday, January 12, 2015

Pengepul Manggis Ini Keluar dari Zona Nyaman

KOMPAS.com - Awal tahun ini saya mengunjungi dua orang sahabat lama saya. Yang satunya, Jodi, pengepul manggis di Cibadak-Sukabumi dan satunya lagi, Hamid,  tukang kayu di Banten. Keduanya memilih hidup jauh dari keramaian: di tengah-tengah kampung di kaki gunung yang sepi, memulai kembali kehidupan dari bawah.

Tetapi jangan salah, 20 tahun lalu keduanya dikenal sebagai yuppie (young-urban professional atau young upwardly-mobile professional). Muda, berdasi, bersedan mewah, dan mudah mendapatkan kedudukan. Kata yuppie sendiri saat itu begitu lekat dengan lulusan universitas terkemuka atau MBA yang bergaji mahal karena bergerak di sektor keuangan.

Krisis moneter 1998  menghancurkan ekonomi keluarga mereka. Ijazah sarjana dari perguruan tinggi (satunya lulusan MBA dari Dallas Texas, satunya lagi sarjana ekonomi UI), tak menjamin kemudahan apa-apa.

Saya khawatir banyak kaum muda berusia 30-40an yang tengah menghadapi perubahan dewasa ini tak menyadari hidupnya pun sesungguhnya sama-sama fragile. Bedanya dengan yang lain, keduanya memilih keluar dari zona nyaman mencari “kesaktian” dan mukjizat dari zona-zona tidak nyaman.

Saya mulai dulu dengan si pengepul manggis. Minggu depan kita obroli si tukang kayu. Ini sekalian penjelasan bagi mas-mas, oom-oom dan adik-adik yang tak mau naik angkot karena sudah biasa naik mobil Audi. Ya, kalau mau naik Audi terus monggo saja, meski suatu ketika uangnya untuk merawat Audi sudah tidak ada lagi dan otot sudah kadung tua. Hehe.

Kalah judi
Hidup ini ibarat berjudi. Kalau sudah kecanduan, manusia sulit keluar dari perangkap itu. Otak Anda akan memerintahkan kaki, tangan dan hati  melakukan hal yang sama berulang-ulang karena sudah familiar.

Itulah zona nyaman. Kita hanya ingin melakukan hal-hal yang  sudah menjadi kompetensi kita, kendati kini telah dimiliki banyak orang dimana-mana. Membuat  kita kehilangan daya jual, substitutable (mudah diigantikan), lalu menjadi obsolete (usang), ketinggalan zaman karena umur.

Realistis saja, kelak kalangan terpelajar, akan menjadi tenaga yang kemahalan bagi industri. Hanya sebagian kecil dari para senior yang didapuk menjadi direksi. Selebihnya bisa dianggap menjadi "beban" (liability) ketimbang "aset". Apalagi kalau terperangkap dalam zona nyaman penuh keluhan dan kegalauan. Nah sebelum merasa disia-siakan, kita tentu perlu keluar dari zona itu, masuk ke zona belajar.

Kita menjadi buta kala kita diberi banyak kemudahan dan kenikmatan. Seperti yang dialami Jodi. Ketika banknya bangkrut, ia banting setir menjadi agen asuransi. Karena hebat jualan, setiap 3 bulan dia bisa membeli mobil mewah baru.

Kawan-kawannya sering dibuat heran. Betapa mudahnya kehidupan yang ia jalani. Semua berpikir ia akan bisa menikmati hari tua dengan tabungan besar dan pensiun di usia muda. Tetapi kenyataan berubah di tahun 1998, aliran uang masuk terhenti: pekerjaannya pun lenyap. Tetapi hobinya untuk menikmati hiburan malam tak pernah lenyap.

Persis seperti ratusan eksekutif ibukota yang saat itu terkena PHK. Meski nilai pesangonnya besar-besar, mereka tetap memakai dasi di pagi hari dan meminta sopirnya membawa dirinya ke "kantor" (yang bukan tempat kerjanya), mengunjungi teman, menghibur diri dari satu kafe ke kafe lainnya. 

Didorong rasa kasihan, saya pernah memberikan orang-orang ini pekerjaan, tetapi banyak yang tidak tahan bertarung melawan kesulitan pada tahap entrepreneurial, dengan  pegawai yang belum berpengalaman, apalagi gajinya tak besar.

Jodi menjalani zona nyaman itu dengan penuh kepura-puraan (bahwa everything’s gonna be OKAY) selama 5 tahun sampai semua teman-temannya sudah tak mau membantu lagi.  Dia madsh ingat nasehat saya ketika menerima buku Change. "Sebelum rasa sakitmu melebihi rasa takutmu, kau belum akan berubah."

Maka sahabat-sahabatnya pun menjauhi demi menyakiti dirinya.  Ketika itulah, pemain band yang mempunyai suara rock dan jagoan sepakbola ini pun pergi ke Cibadak, menempati sepetak tanah milik orangtuanya yang lama tak diurus. Di situ ia memulai hidup baru menjadi pengepul manggis.

Waktu ia menelepon dari lokasi persembunyiannya, saya merasa ia belum berubah. Ia meyakinkan saya tentang hidup barunya. Kami abaikan. Sampai suatu ketika saya ada urusan di Sukabumi dan meluangkan waktu mengunjunginya.

Pinggang saya hampir copot rasanya. Jalan rusak berkilo-kilo meter saya tempuh untuk menemuinya. Kemarin, tukang kebun yang mau saya tempatkan untuk mengurus kebun manggis milik Rumah Perubahan di sana saja terlihat ketakutan dan minta agar tak ditempatkan di sana. Di gubuk sederhana, Jodi tinggal bersama para tukang kebun.

Di kampung itu ia dipanggil opa, dan sejak opa ikut berbisnis manggis, petani-petani  mulai bisa membangun rumah karena ia tak memainkan harga seperti para tengkulak.  

Waktu pulang saya dioleh-olehi dua peti manggis yang waktu saya baca di Google,  ternyata disebutkan kampung itu terkenal sebagai penghasil manggis ter-enak di seluruh Indonesia.

Zona Belajar
Kalau manusia gigih untuk keluar dari zona nyamannya, maka ia tidak otomatis akan sukses. Selama 6 tahun lebih, Jodi bergelut dalam zona baru yang saya sebut sebagai zona belajar (learning zone). Ia benar-benar jungkir balik, berkeringat, dan bersepeda motor melewati jalan-jalan berlumpur yang licin.

Di situ ia belajar hidup efisien, berbagi perasaan dengan orang desa, mempelajari perilaku petani dan eksportir. Dari biasa mengeluh kini rumahnya mulai didatangi kalangan berdasi yang  sebentar lagi akan pensiun.

Mereka semua adalah rekan-rekan kerja Jodi yang “berhasil selamat” dari krisis moneter tahun 1998, tetap hidup dalam zona nyaman, namun kini justru merasa hidupnya penuh ancaman. Makanya dalam tulisan yang lalu saya katakan zona nyaman itu cuma sebuah ilusi. Ia malah justru tidak aman dan samasekali tidak nyaman. (baca: Keluar dari Zona Nyaman)

Setahun yang lalu ia memulai usaha penggergajian kayu dengan satu mesin menyusul banyaknya orang yang menanam sengon. Kemarin, saya lihat mesinnya sudah empat buah, ditambah mesin-mesin canggih lainnya. 

Asetnya sudah di atas Rp 2 miliar lebih. Bulan depan ia akan mengambil alih bangunan pabrik milik nasabah sebuah bank. Rumah Perubahan berencana memindahkan lokasi pembuatan alat-alat permainan edukatif ke lokasi ini.  Jodi membuka lapangan kerja bagi 200an orang karyawan unskill yang masih prasejahtera.

Dengan menjelajahi zona belajar, Jodi bukan memperdalam kompetensinya. Ia mengeksplorasi kapabilitas baru.  Apa bedanya dengan Fuji yang mengekspansi kapabilitasnya dalam dunia digital, atau Modern Group yang mengekspansi kapabilitasnya ke dalam dunia retail? Sementara mereka yang tak belajar lagi, apa bedanya dengan Kodak dan Nokia?

Renungan bagi kaum muda
Dari Jodi, kita belajar bagaimana manusia keluar dari zona nyaman. Padahal di banyak kantor-kantor di Jakarta saya sering bertemu dengan para owner dan CEO perusahaan yang mengeluh bagaimana menangani pegawai-pegawainya yang terbelenggu dalam zona nyaman.

Tentu bukan maksudnya agar mereka berhenti atau di pensiun-dinikan, melainkan bagaimana agar mereka mau belajar tentang cara-cara baru dalam bekerja, menjadi manusia yang selalu produktif, ngeh terhadap perubahan, dan tetap dinamis.

Masalahnya, kompetisi menghadapi MEA ini semakin keras. Bukan dari pendatang-pendatang dari negeri seberang, melainkan dari sesama pemain-pemain lokal yang semakin kreatif.

Sejalan dengan itu tekanan pada sisi cost structure di sini makin terasa. Depresiasi rupiah, kongesti di pelabuhan, kenaikan biaya upah dan harga BBM, semuanya sungguh menekan.

Sementara itu, melewati usia 33, semua eksekutif mulai ingin menikmati hidup enak, mulai banyak minta cuti, dengan biaya entertainment dan asuransi kesehatan yang makin mahal.

Menurut hemat saya, para pegawai pun harus belajar menangani perasaan-perasaannya, juga menjadi lebih adaptif dalam mempelajari masa depan.  Kami di Rumah Perubahan sudah setahun ini aktif diminta banyak kementrian, BUMN dan perusahaan swasta untuk melatih  para karyawan agar terlatih keluar dari zona nyaman.

Akhirnya perlu saya sampaikan bahwa berselancar dalam Zona belajar itu meletihkan, kadang itu memang pahit. Anda juga boleh bilang hidup dalam kepahitan ini unethical. Boleh saja.  But this your life, your family life, and remember those you love. 

Kalau kita mau hidup enak  ya kita harus belajar terus, tak boleh ada tamatnya, meski tak ada ijazahnya. Artinya, ya kerja keras, kerja lebih gigih, lebih bertanggungjawab dan memberi lebih.

Prof. Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers



Sumberhttp://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/01/13/053000926/Pengepul.Manggis.Ini.Keluar.dari.Zona.Nyaman?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp